Selasa, 09 Oktober 2018

CARA MENULIS ARTIKEL ILMIAH


CARA MENULIS ARTIKEL ILMIAH TEMA KEPERAWATAN YANG BAIK DAN BENAR

Rizka Yulia Hindarti
S.Tr Keperawatan Lawang
Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang
Rizkafhrs12@gmail.com

Menulis artikel ilmiah yang baik dan benar yaitu sesuai kaidah penulisan dan tulisan yang otentik bukan hasil plagiat. “Artikel adalah salah satu bentuk tulisan nonfiksi berisi fakta dan data yang disertai sedikit analisis opini penulisnya” (Rahardi, 2006). Menurut (Harefa, 2010) “artikel adalah karya tulis , nonfiksi, tak tentu panjangnya, bertujuan untuk mendidik, meyakinkan, atau menghibur, dimuat media cetak dan elektronik, dan bisa berupa berita, obyektif berdasarkan data dan fakta, logis dan bisa diuji, tidak emosional menggunakan tanda baca dan bahasa yang baku”. Pengertian artikel ilmiah, “sebuah karya atau artikel ilmiah adalah teks ilmiah dengan struktur mapan, dan bertujuan untuk menggambarkan kemajuan penelitian yang dikomunikasikan ke khalayak ilmiah yang luas” (Fatchiyah, 2016).
Adapun langkah-langkah menulis artikel ilmiah yang baik dan benar serta bebas plagiasi adalah sebagai berikut :
1.      Memahami bagian-bagian pada artikel mulai dari abstrak dan kata kunci, pendahuluan, isi, dan penutup.
2.      Pahami tema untuk mengambil bab yang akan dibahas. Ada banyak tema yang dapat dimuat pada artikel misalnya tema keperawatan. Pada tema keperawatan isi yang akan dibahas yaitu tentang hal-hal yang berhubungan dengan keperawatan. Misalnya keperawatan anak, perawatan lansia, maternitas, dan lain-lainnya.
3.      Menentukan judul yang akan dibuat, judul yang baik lebih dari 5 kata dan jelas. 
4.      Mencari dan mempelajari referensi tentang  bab yang akan dibahas serta sesuai dengan tema.
5.      Menulis bagian abstrak yang berisi gambaran umum dari isi yang akan dibahas. Pada bagian abstrak ini hampir sama dengan sinopsis.
6.      Menulis kata kunci, kata kunci dapat diambil dari kata yang menjadi topik pembahasan. Biasanya kata kunci diambil dari beberapa kata pada judul artikel. Karena pada judul artikel merupakan topik yang dibahas pada isi.
7.      Menulis pendahuluan, pendahuluan biasa berisi latar belakang atau sebab-sebab mengapa tema tersebut diangkat. Pada pendahuluan juga membahas secara singkat tentang topik pembahasan.
8.      Menulis isi atau pembahasan, bagian ini merupakan pembahasan secara jelas tentang topik yang dibahas. Biasanya terdiri dari beberapa bab yang dibahas, seperti pengertian, penyebab, dan lainnya mengenai topik. Untuk memberikan informasi yang jelas tentang topik yang dibahas diperlukan sumber lain selain dari ide pemikiran penulis sendiri, tetapi tetap menghindari plagiasi.  Agar terhindar dari plagiasi yaitu dengan cara mengutip pendapat atau pemikiran orang lain. Mengutip pendapat atau ide tersebut bisa secara langsung maupun tidak langsung. Kutipan bisa bersumber dari beberapa referensi seperti buku, jurnal, koran/majalah, lembaga/institusi, email,  internet dan lainnya. Untuk referensi kutipan yang diambil dari internet harus berasal dari sumber yang terpercaya antara lain DOAJ,Google Schoolar,Researchgate,Portal Garuda. Sumber rujukan bisa di tulis dengan beberapa model, yaitu APA, Harvard, Chicago dan lainnya. Model kutipan ini dapat digunakan langsung di program Microsoft Word pada References lalu di bagian ribbon terdapat pilihan dalam membuat sumber referensi. Pertama pilih insert citation lalu add new source. Pilih sumber yang kita maksud yaitu book, web site, jurnal, atau yang lainnya. Isi semua informasi yang dibutuhkan tentang sumber rujukan seperti author atau penulis, tittle atau judul, year atau tahun terbit, publisher atau penerbit, dan lain sebagainya, lalu pilih ok. Secara otomatis sumber rujukan akan muncul di samping kutipan.

A.    Kutipan langsung
 “Kegiatan kutipan langsung merupakan kegiatan salin timpa,kewajiban atas kegiatan salin-timpa ini adalah mencantumkan sumber rujukan” (Widyartono, 2018).  Kutipan langsung yang baik yaitu kutipan ringkas kurang dari 40 kata. Cara menulis kutipan langsung yaitu dengan memberi tanda petik pada kalimat yang dikutip serta memberikan nama atau sumber rujukan yang jelas. Sumber rujukan dapat ditulis di awal kalimat,di tengah kalimat, dan di akhir kalimat. Terdapat bebrapa pilihan Contoh dari kutipan langsung :

(Efendi & Makhfudli, 2009) menyatakan bahwa “kesehatan yang optimal bagi setiap individu, keluarga, kelompok dan masyarakat merupakan tujuan dari keperawatan, khususnya keperawatan komunitas.

“Untuk tetap meningkatkan dan mempertahankan fungsi mental lansia dapat dilakukan kegiatan mengingat, berbicara, berpikir, berperilaku dan melakukan berbagai pekerjaan agar lansia dapat tetap mandiri dan produktif”(Maryam, Hartini, & Sumijatun, 2016).

Kesehatan sangat penting, menurut (Efendi & Makhfudli, 2009)  kesehatan yang optimal bagi setiap individu, keluarga, kelompok dan masyarakat merupakan tujuan dari keperawatan, khususnya keperawatan komunitas.
Dengan cara mengutip, tulisan akan terhindar dari plagiasi. Selain itu tulisan akan semakin kaya akan sumber referensi.

B.     Kutipan Tidak Langsung
“Kutipan tidak langsung merupakan tindakan salin-timpa (copy-paste) ide, kutipan ini ditulis dengan kalimat yang berbeda dengan kalimat aslinya tanpa mengubah ide” (Widyartono, 2018). Kutipan ini sangat disarankan untuk digunakan pada artikle ilmiah. Contoh :

Tujuan dari keperawatan adalah untuk menciptakan kesehatan yang optimal bagi individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, dan yang terpenting pada keperawatan komunitas (Efendi & Makhfudli, 2009).

9.      Menulis penutup, penutup berisi kesimpulan atau ringkasan dari hasil pembahasan.
10.  Mencantumkan daftar rujukan, setelah mengutip pendapat atau ide dari sumber lain perlu dicantumkan secara jelas pada akhir artikel berupa daftar rujukan atau daftar pustaka. Penulisan daftar rujukan harus sesuai dengan aturan penulisan daftar rujukan yang benar. Jika sudah mengunakan references pada microsoft word maka daftar rujukan bisa langsung tercantum yaitu dengan memilih pada ribbon references bibliography, lalu pilih bibliography. Daftar rujukan bisa ditulis secara manual dengan mencantumkan informasi yang jelas dan benar. Contoh daftar rujukan seperti daftar rujukan yang terdapat di akhir artikel ini.
11.  Cek plagiasi, setelah artikel selesai dibuat harus dicek terlebih dahulu untuk memastikan apakah artikel sudah tidak mengandung unsur plagiat. Cara mengecek bisa melalui aplikasi untuk mengecek plagiasi baik yang berbayar maupun gratis. Salah satu yang bisa digunakan yaitu https://smallseotools.com/plagiarism-cheker.

Daftar Rujukan

Efendi, F., & Makhfudli. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas. Jakarta: Salemba Medika.
Fatchiyah. (2016). Strategi Penulisan Artikel Jurnal Ilmiah. Malang: Universitas Brawijaya Press.
Harefa, A. (2010). Happy Writing . Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Maryam, R. S., Hartini, T., & Sumijatun, S. (2016, 4). Retrieved 09 07, 2018, from https://doaj.org/article/00df77bd767f408d9d375101cf131a39
Rahardi, F. (2006). panduan Lengkap Menulis Artikel, Featur dan Esai . Tangerang: PT Kawan Pustaka.
Widyartono, D. (2018). Panduan Menulis Karya Ilmiah. Malang : Universitas Negeri Malang.


PERAWATAN TERHADAP PENYAKIT YANG SERING DIDERITA LANSIA

PERAWATAN TERHADAP PENYAKIT YANG SERING DIDERITA LANSIA

Rizka Yulia Hindarti
S.Tr Keperawatan Lawang Tk.1
Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang
Rizkafhrs12@gmail.com

Abstrak.Lansiamerupakan golongan yang rentan menderita penyakit karena faktor usia. Penyakit yang sering diderita yaitu hipertensi dan nyeri sendi. Hipertensi pada lansia disebabkan oleh beberapa penyebab,yaitu pemenuhan kebutuhan tidur yang mempengaruhi kualitas hidup pada lansia, aktivitas fisik atau olahraga dan pola konsumsi makanan. Ada beberapa tindakan keperawatan yang perlu dilakukan untuk mengatasi hipertensi pada lansia antara lain dengan pemenuhan kebutuhan tidur, serta pemberian olahraga ringan. Beberapa tindakan keperawatan perlu diberikan kepada lansia yang menderita hipertensi karena pemberian obat anti hipertensi jangka panjang pada lansia tidak cocok undan dapat menimbulkan efek lain yang lebih serius. Selain itu, penyakit sendi juga menjadi penyakit yang sering diderita lansia. Penyakit sendi dapat terjadi karena beberapa penyebab antara lain konsumsi makanan dan aktivitas fisik yang berpengaruh terhadap kesehatan tulang. Karena organ tubuh pada lansia mengalami penurunan sehingga ruang gerak dan aktivitas lansia menurun sehingga kesehatan tulang dan sendi juga menurun.
Kata kunci : perawatan , penyakit , lansia

Pendahuluan :
Seiring bertambahnya usia, fungsi organ tubuh manusia akan menurun. Seperti yang umum terjadi pada lansia yang semakin rentan menderita penyakit seiring masa penuaannya. Sebagai dampak berkepanjangan dari aktivitas dan pola makan di masa muda sehingga beberapa penyakit akan muncul saat usia lanjut. Penyakit yang sering diderita lansia yaitu hipertensi dan nyeri sendi. Penyebabnya juga bermacam-macam, seperti aktivitas fisik dan pemenuhan kebutuhan tidur.Konsumsi makanan dan aktivitas fisik sangat signifkan pengaruhnya terhadap  kesehatan lansia khususnya kesehatan tulang.
Oleh karena itu perlu adanya tindakan keperawatan untuk mengatasi penyakit hipertensi dan nyeri sendi yang banyak diderita oleh lansia.Perawatan terhadap lansia seperti senam hipertensi dan pemenuhan kebutuhan tidur dapat diberikan kepada lansia.

A.    Hipertensi

Lansia merupakan golongan yang rentan menderita penyakit tertentu. Hal ini disebabkan oleh faktor usia. Beberapa hal yang umum terjadi pada lansia yaitu hipertensi atau tekanan darah tinggi dan nyeri sendi. Masalah biopsikososial yang timbul mengakibatkan penurunan kualitas hidup sehingga jumlah penderita hipertensi khususnya pada lansia menjadi meningkat(Dewi & Sudhana, 2013). Dalam hasil penelitian menyebutkan bahwa jumlah lansia yang menderita hipertensi karena tingkat olahraga yang kurang sebesar 45,79%, dan kurang kebal terhadap stres sebesar 39,25% (Andria, 2013).
Terdapat beberapa penyebab terjadinya hipertensi pada lansia seperti pemenuhan kebutuhan tidur yang mempengaruhi kualitas hidup pada lansia. Kualitas hidup akan mengalami penurunan jika terjadi gangguan tidur sebagai akibat proses bertambahnya usia atau penuaan(Sulidah, Yamin, & Susanti, 2016).
Aktivitas fisik atau olahraga dan pola konsumsi makanan juga berpengaruh terhadap munculnya penyakit hipertensi pada lansia. Lokasi yang berbeda menyebabkan adanya perbedaan aktivitas fisik dan perilaku kesehatan pada lansia, untuk meningkatkan aktifitas fisik dan perilaku kesehatan pada lansia perlu didukung dengan kesejahteraan seperti dukungan moral dan spiritual kepada lansia (Rusilanti, Kusharto, & Wahyuni, 2006) . Oleh karena itu perlu adanya tindakan keperawatan untuk mengatasi penyakit hipertensi yang banyak diderita oleh lansia. Antara lain dengan pemenuhan kebutuhan tidur, serta pemberian olahraga ringan.Aktivitas fisik juga berbeda berdasarkan lokasi pemukiman, kondisi sosial ekonomi pada lansia, sehingga perilaku kesehatan pada lansia juga berbeda, dukungan keluarga, masyarakat, dan pemerintah perlu diberikan agar aspek psikososial pada lansia tidak terganggu (Rusilanti, Kusharto, & Wahyuni, 2006).Selain itu perlu tindakan untuk meningkatkan kualitas tidur pada lansia. Yaitu dengan latihan relaksasi otot progresif yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas tidur lansia dengan dampak berupa meningkatnya respon subjektif kepuasan tidur, latensi tidur memendek, durasi tidur(Sulidah, Yamin, & Susanti, 2016).
Olahraga ringan perlu dilakukan untuk lansia dengan intensitas olah raga yang ringan. Karena dengan kondisi lanjut usia mobilisasi gerak pada lansia terbatas. Sehingga olahraga yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi lansia. Agar olahraga tidak memberi dampak buruk terhadap kesehatan lansia. Pemberian obat juga tidak sesuai dikarenakan organ pada lansia yang fungsinya sudah tidak optimal dan konsumsi obat-obatan dapat berdampak buruk terhadap kesehatan lansia. Gerakan gerakan senam yang disesuaikan dengan kemampuan gerak lansia yaitu pada senam hipertensi. Pemakaian obat anti hipertensi jangka panjang dapat mengakibatkan ketergantungan akan obat, penurunan fungsi organ dalam seperti ginjal, menyebabkan kerusakan fungsi kognitif yang tidak baik bagi kesehatan lansia (Hernawan & Rosyid, 2007).Setelah mengetahui dampak senam lansia yang dapat menurunkan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi maka perawat seharusnya bisa memberi  tindakan dan saran intervensi non farmakologis latihan nafas dan senam dalam beberapa kali dalam seminggu untuk menurunkan risiko hipertensi. Selain olahraga senam, pola diet juga dapat mengatasi hipertensi(Astari & Dyah, 2012). “Olahraga dan pola diet dapat menstabilkan tekanan darah”(Herwati & Wiwi, 2013).
Selanjutnya, jika lansia telah mengidap penyakit kronis seperti hipertensi dibutuhkan intervensi manajemen stres. Karena lansia yang mengidap penyakit akan lebih mudah stres dengan kondisinya. tingkat stres yang dialami oleh lansia karena menderita penyakit kronis dapat diturunkan dengan intervensi manajemen stres secara berkelompok  (Hanum & P, 2016).

B.     Nyeri Sendi                
                       
Seiring bertambahnya usia, selain hipertensi lansia juga rentan mengidap penyakit pada persendian. Lansia dalam proses penuaan mengala­mi penurunan kondisi tubuh. (Triatmaja, Khomsan, & Dewi, 2013)menyatakan bahwa “semakin bertambahnya usia maka akan lebih mudah terserang berbagai penyakit degeneratif. Salah satu penyakit degeneratif yang sering  diderita lansia adalah penyakit sendi”. (Ulliya, Soempeno, & Kushartanti, 2010) menyatakan bahwa “menua merupakan proses fisiologis yang akan mengurangi semua fungsi organ, salah satunya adalah pada sistem muskuloskeletal yang dapat menyebabkan keterbatasan gerak, penurunan gerak persendian akan mengurangi aktivitas fisik”. Nyeri sendi sampai osteoporosis adalah penyakit yang umum diderita pada usia lanjut. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya hal ini. Antara lain konsumsi makanan dan aktivitas. Konsumsi makanan dan aktivitas fisik sangat signifkan pengaruhnya terhadap kesehatan tulang. Uji multiregresi logistic menunjukkan jika aktivitas fisik lebih kecil pengaruhnya timbulnya penyakit osteoporosis dibandingkan kekurangan kalsium(Marjan & Marliyati, 2013).
            Dengan adanya penyakit yang rentan diderita oleh lansia dan dapat terjadi karena beberapa penyebab diperlukan perawatan terhadap lansia khususnya oleh perawat dan tenaga kesehatan lainnya. Peran perawat yaitu suatu cara untuk melakukan aktivitas berupa praktik setelah selesai menempuh pendidikan formal dan telah disetujui oleh pemerintah untuk melaksanakan tugas dan bertanggung jawab terhadap profesinya serta sesuai kode etik profesional (Kawi, Nurhayati, & Dahlan, 2017). (Agrina, Rini, & Hairitama, 2011) menyatakan bahwa “disarankan kepada petugas kesehatan untuk lebih sering memberikan penyuluhan dan sosialisasi tentang penyakit hipertensi kepada penderita hipertensi, terutama tentang diet hipertensi yang baik dan benar”. Perawat harus memiliki kemampuan mensintesa berbagai teori, menerapkannya secara total pada lingkungan perawatan klien usia lanjut termasuk aspek fisik, mental dan sosial. Dengan demikian  pendekatan eklektik akan menghasilkan dasar yang baik saat  merencanakan suatu asuhan  keperawatan berkualitas pada klien lansia (Latifah, dkk, 2015).“Untuk tetap meningkatkan dan mempertahankan fungsi mental lansia dapat dilakukan kegiatan mengingat, berbicara, berpikir, berperilaku dan melakukan berbagai pekerjaan agar lansia dapat tetap mandiri dan produktif”(Maryam, Hartini, & Sumijatun, 2016).


Penutup :
Lansia menjadi rentan menderita penyakit karena faktor usia yang menyebabkan penurunan fungsi organ. Penyakit yang sering diderita oleh lansia yaitu hipertensi dan nyeri sendi. Selain faktor usia hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal seperti aktivitas dan pola makan. Untuk mengatasi penyakit yang sering diderita lansia tersebut dapat diatasi dengan berbagai cara serta perlu adanya peran perawat dan tenaga kesehatan dalam mengatasinya. Beberapa tindakan keperawatan perlu diberikan kepada lansia yang menderita hipertensi karena pemberian obat anti hipertensi jangka panjang pada lansia tidak cocok undan dapat menimbulkan efek lain yang lebih serius.

 

Daftar Rujukan

Agrina, Rini, S. S., & Hairitama, R. (2011). Retrieved 09 07, 2018, from https://ejournal.unri.ac.id/index.php
Andria, K. M. (2013). Retrieved 09 07, 2018, from http://www.journal.unair.ac.id
Astari, & Dyah, P. (2012). Retrieved 09 07, 2018, from https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents
Dewi, P. R., & Sudhana, I. W. (2013, 11). Dipetik 09 7, 2018, dari https://ojs.unud.ac.id/index.php
Hanum, L., & P, D. (2016). Retrieved 09 07, 2018, from https://jurnal.ugm.ac.id/jpsi/article/download/11501/8947
Hernawan, T., & Rosyid, F. N. (2007, 06). Retrieved 09 6, 2018
Herwati, & Wiwi, s. (2013, 09). Retrieved 09 07, 2018, from http://jurnal.fkm.unand.ac.id/index.php/jkma/article/view/118/124
Kawi, Nurhayati, R., & Dahlan, S. (2017). Retrieved 09 07, 2018, from http://journal.unika.ac.id/index.php/shk/article/download/782/548
Latifah, dkk. (2015). Retrieved 09 07, 2018, from https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents
Marjan, A. Q., & Marliyati, A. S. (2013, 07). Retrieved 09 07, 2018, from http://journal.ipb.ac.id/index.php
Maryam, R. S., Hartini, T., & Sumijatun, S. (2016, 4). Retrieved 09 07, 2018, from https://doaj.org/article/00df77bd767f408d9d375101cf131a39
Rusilanti, Kusharto, C. M., & Wahyuni, E. S. (2006, 11 1). Retrieved 09 6, 2018, from http://journal.ipb.ac.id/index.php
Sulidah, Yamin, A., & Susanti, R. D. (2016, 04 1). Retrieved 09 2018, 6, from http://jkp.fkep.unpad.ac.id/index.php
Triatmaja, N. T., Khomsan, A., & Dewi, M. (2013, 3). Retrieved 09 07, 2018, from http://journal.ipb.ac.id/index.php
Ulliya, S., Soempeno, B., & Kushartanti, W. (2010, 12 22). Retrieved 09 07, 2018, from https://ejournal.undip.ac.id/index.php